![]() |
| ketua parlemen iran, Mohammad Bagher Ghalibaf (sumber : x.com) |
Kilasnegara, Teheran - Pemerintah Iran kembali menegaskan sikap tegasnya untuk tidak melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) apabila proses diplomasi berlangsung di bawah tekanan atau ancaman militer. Pernyataan ini disampaikan oleh sejumlah pejabat tinggi Iran di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Ketua parlemen Iran dan negosiator utama negara tersebut menyatakan bahwa “negosiasi di bawah ancaman tidak dapat diterima,” sekaligus memperingatkan bahwa Teheran memiliki “kartu baru” jika konflik kembali memanas.
Sikap ini muncul di tengah berakhirnya gencatan senjata dua pekan antara Iran dan AS. Iran menilai tekanan militer, termasuk blokade laut yang diberlakukan Washington, bertentangan dengan prinsip diplomasi dan menunjukkan ketidakseriusan AS dalam mencapai solusi damai.
![]() |
| rakyat iran turun ke jalan dukun pemerintah tolak negosiasi dengan AS (sumber : CNBC) |
Sebelumnya, Iran juga berulang kali menegaskan bahwa dialog hanya dapat dilakukan jika ancaman, tuntutan berlebihan, dan tekanan dihentikan.
Ketegangan meningkat sejak AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran dan melakukan penyitaan kapal berbendera Iran di Selat Hormuz. Iran mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata dan bentuk agresi.
Di sisi lain, pemerintah AS terus mendorong dilanjutkannya perundingan guna meredakan konflik dan menjaga stabilitas pasar global, khususnya energi. Namun, sikap keras Teheran memperbesar ketidakpastian masa depan diplomasi kedua negara.

